Mengamati Erupsi Gunung Dukono: Dentuman Alam dari Utara Halmahera

 



Senin, 23 Juni 2025 11.15 WIB


Red : Muhammad Fairul Nurhidayah

Gunung Dukono, salah satu gunung api paling aktif di Indonesia yang terletak di Halmahera Utara, Maluku Utara, kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya. Dalam beberapa hari terakhir, letusan-letusan kecil disertai lontaran abu vulkanik membubung ke langit, menandai fase erupsi yang terus berlanjut sejak awal tahun ini. Dukono seakan tak pernah tidur, menjadi saksi abadi dinamika geologi di wilayah Cincin Api Pasifik.

Erupsi terbaru yang tercatat terjadi pada minggu ketiga bulan Juni 2025, menyemburkan kolom abu setinggi lebih dari 1.200 meter ke udara. Berdasarkan informasi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), abu tersebut tersebar ke arah barat dan barat laut, dipengaruhi arah angin. Letusan ini juga disertai suara gemuruh yang terdengar hingga radius 5 km dari kawah Malupang Warirang, kawah aktif Gunung Dukono.

Aktivitas vulkanik ini memaksa otoritas setempat untuk kembali mengingatkan warga dan pendaki agar tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 km dari pusat erupsi. Meskipun belum ada laporan kerusakan besar atau korban jiwa, kewaspadaan tetap ditingkatkan. Sebab, karakter Gunung Dukono dikenal sangat fluktuatif—kadang tenang, namun bisa tiba-tiba melontarkan material pijar. Suara gemuruh terdengar jelas dari kawah Malupang Warirang, menandakan adanya tekanan magma yang terus bergerak ke permukaan.

Sebagai gunung bertipe stratovolcano, Dukono memang telah aktif hampir tanpa henti sejak letusan besarnya pada 1933. Sejak saat itu, gunung ini jarang benar-benar tenang. Letusan demi letusan kecil terus terjadi, menjadikannya salah satu laboratorium alam terbaik bagi para vulkanolog dan pencinta geowisata. Meski begitu, kedekatan masyarakat lokal dengan Dukono juga menyimpan cerita-cerita kearifan lokal tentang hidup berdampingan dengan "si penguasa asap" ini.

Di tengah peringatan dan kewaspadaan, para fotografer dan peneliti justru menjadikan momen ini sebagai waktu yang tepat untuk mendokumentasikan aktivitas vulkanik Gunung Dukono. Langit senja Halmahera yang berselimut abu dengan cahaya merah keemasan menjadi simbol keindahan sekaligus kekuatan alam yang tak bisa dikendalikan. Gunung Dukono bukan hanya ancaman, tapi juga pengingat bahwa bumi terus bernapas dan bergerak. Dan sebagai manusia, kita hanya bisa belajar, berjaga, dan menghargai setiap detik detak jantungnya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ratusan Pendaki Padati Gunung Prau saat Akhir Pekan, Petugas Imbau Waspadai Cuaca Ekstrim

"Gunung Semeru Erupsi, Ribuan Warga Dilarikan ke Pengungsian"